Tingginyakharismatik Syech Muhammad Arsyad Al Banjari sebagai ulama tidak hanya menarik simpatik masyarakat di Kalimantan Selatan.
Tanahtersebut dijadikan sebagai tempat tinggal Datu Kelampayan dalam mengajarkan ilmu agama hingga lahirnya para alim ulama di Kalsel. "Ya, itu diambil dari Desa Dalam Pagar, kediaman Datu Kelampayan. Tadi sudah dibawa sama Pak Gubernur dan kita lihat sudah dituangkan ke dalam gentong besar," kata Kepala Dinas Kominfo Kalsel, Muhammad
asanyaseperti baru kemarin, awal Juli 2017, pelaksanaan Haul ke 211 Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau juga disebut Datu Kelampayan. pelaksanaan Haul ke 211 Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau juga disebut Datu Kelampayan. Minggu, 10 Juli 2022; Cari. Network. Tribunnews.com; TribunnewsWiki.com; TribunStyle.com;
SyekhMuhammad Arsyad al-Banjari adalah pelopor pengajaran Hukum Islam di Kalimantan Selatan. Sekembalinya ke kampung halaman dari Mekkah, hal pertama yang dikerjakannya ialah membuka tempat pengajian (semacam pesantren) bernama Dalam Pagar, yang kemudian lama-kelamaan menjadi sebuah kampung yang ramai tempat menuntut ilmu agama Islam.
arkanulfaizin ziarah ke kelampayan. Lanjut ke konten. KE KELAMPAYAN. arkanulfaizin Catatan Harian 25 Agustus 2019 27 Agustus 2019 1 Minute. Hari ini (18/08/19) aku pergi beziarah ke makam Datu Kelampayan. Saat aku di mobil, mobil sudah ada di Martapura. Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in: Email (wajib) (Alamat
Diadat batak atau suku batak silsilah keluarga dikenal dengan sebutan tarombo. Sama halnya dengan keluarga batak lain, keluargaku juga memiliki tarombo yang diwariskan secara turun temurun dari oppung-oppungku terdahulu (sebutan nenek moyang bagi adat batak). Ayahku menerima sebuah buku yang isinya tentang tarombo keluargaku, aku baru tau di
KuJGd. Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau juga disebut Datuk Kelampayan adalah seorang tokoh ulama asal Kota Martapura, Kalimantan Selatan yang tak hanya masyhur di Tanah Borneo Kalimantan Selatan, Timur, Tengah, Barat dan Utara. Tetapi Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari merupakan seorang ulama besar berskala internasional, yang masyhur di seluruh pelosok negeri. Syekh Muhammad Arsyad anak dari Syekh AbdullÄh bin Abu Bakar Al BanjarÄ« yang lahir di Desa Lok Gabang, 17 Maret 1710, kemudian meninggal di Kampung Dalam Pagar pada 3 Oktober 1812 pada umur 102 tahun. Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari adalah ulama fiqih mazhab Syafiâi yang berasal dari Kota Martapura di Tanah Banjar Kesultanan Banjar, Kalimantan Selatan. Dia hidup pada masa tahun 1122-1227 hijriyah. Dia juga disebut Haji Besar dan mendapat julukan anumerta Datuk Kalampayan. Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari pengarang Kitab Sabilal Muhtadin yang banyak menjadi rujukan bagi banyak pemeluk agama Islam di Asia Tenggara. Beberapa penulis biografi Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, antara lain Mufti Kerajaan Indragiri Abdurrahman Siddiq, berpendapat bahwa ia adalah keturunan Alawiyyin melalui jalur Sultan Abdurrasyid Mindanao Kesultanan Maguindanao yang didirikan Syarif Muhammad Kabungsuwan. Adapun jalur nasabnya adalah sebagai berikut Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari bin Abdullah bin Tuan Penghulu Abu Bakar bin Sultan Abdurrasyid Mindanao bin Abdullah bin Abu Bakar Al Hindi bin Ahmad Ash Shalaibiyyah bin Husein bin Abdullah bin Syekh bin Abdullah Al Idrus Al Akbar datuk seluruh keluarga Al Aidrus bin Abu Bakar As Sakran bin Abdurrahman As Saqaf bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali Maula Ad Dark bin Alwi Al Ghoyyur bin Muhammad Al Faqih Muqaddam bin Ali Faqih Nuruddin bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khaliqul Qassam bin Alwi bin Muhammad Maula Shamaâah bin Alawi Abi Sadah bin Ubaidillah Imam Ahmad Al Muhajir bin Imam Isa Ar Rumi bin Al Imam Muhammad An Naqib bin Al Imam Ali Uraidhy bin Al Imam Jaâfar As Shadiq bin Al Imam Muhammad Al Baqir bin Al Imam Ali Zainal Abidin bin Al Imam Sayyidina Husein bin Al Imam Amirul Muâminin Ali Karamallah wajhah wa Sayyidah Fatimah Az Zahra binti Rasulullah SAW. Masa Kecil Sejak dilahirkan, Syekh Muhammad Arsyad melewatkan masa kecil di desa kelahirannya Lok Gabang, Martapura Sekarang Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar. Sebagaimana anak-anak pada umumnya, Syekh Muhammad Arsyad bergaul dan bermain dengan teman-temannya. Namun pada diri Syekh Muhammad Arsyad sudah terlihat kecerdasannya melebihi dari teman-temannya. Begitu pula akhlak budi pekertinya yang halus dan sangat menyukai keindahan. Di antara kepandaiannya adalah seni melukis dan seni tulis. Sehingga siapa saja yang melihat hasil lukisannya akan kagum dan terpukau. Pada saat Sultan Tahlilullah sedang bekunjung ke kampung Lok Gabang, Sultan melihat hasil lukisan Syekh Muhammad Arsyad yang masih berumur 7 tahun. Terkesan akan kejadian itu, maka Sultan meminta pada orang tuanya agar anak tersebut sebaiknya tinggal di istana untuk belajar bersama dengan anak-anak dan cucu Sultan. Di istana, Syekh Muhammad Arsyad tumbuh menjadi anak yang berakhlak mulia, ramah, penurut, dan hormat kepada yang lebih tua. Seluruh penghuni istana menyayanginya dengan kasih sayang. Sultan sangat memperhatikan pendidikan Syekh Muhammad Arsyad, karena Sultan mengharapkan Syekh Muhammad Arsyad kelak menjadi pemimpin yang alim. Menikah dan Menuntut Ilmu ke Makkah Ia mendapat pendidikan penuh di Istana sehingga usia mencapai 30 tahun. Kemudian ia dikawinkan dengan seorang perempuan bernama Tuan Bajut. Ketika istrinya mengandung anak yang pertama, terlintaslah di hati Syekh Muhammad Arsyad suatu keinginan yang kuat untuk menuntut ilmu di tanah suci Makkah. Maka disampaikanlah hasrat hatinya kepada sang istri tercinta. Meskipun dengan berat hati mengingat usia pernikahan mereka yang masih muda, akhirnya isterinya mengamini niat suci sang suami dan mendukungnya dalam meraih cita-cita. Maka, setelah mendapat restu dari Sultan berangkatlah Syekh Muhammad Arsyad ke Tanah Suci mewujudkan cita-citanya. Deraian air mata dan untaian doa mengiringi kepergiannya. Di Tanah Suci, Syekh Muhammad Arsyad mengaji kepada masyaikh terkemuka pada masa itu. Di antara guru dia adalah Syekh Athaillah bin Ahmad al-Mishry, al-Faqih Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi dan al-Arif Billah Syekh Muhammad bin Abdul Karim al-Samman al-Hasani al-Madani. Syekh Al Samman Al Madani adalah guru Syekh Muhammad Arsyad di bidang tasawuf, di mana di bawah bimbingannyalah Syekh Muhammad Arsyad melakukan suluk dan khalwat, sehingga mendapat ijazah darinya dengan kedudukan sebagai khalifah. Selain itu guru-guru Syekh Muhammad Arsyad yang lain seperti Syekh Ahmad bin Abdul Munâim ad Damanhuri, Syekh Muhammad Murtadha bin Muhammad az Zabidi, Syekh Hasan bin Ahmad al Yamani, Syekh Salm bin Abdullah al Basri, Syekh Shiddiq bin Umar Khan, Syekh Abdullah bin Hijazi asy Syarqawy, Syekh Abdurrahman bin Abdul Aziz al Maghrabi, Syekh Abdurrahamn bin Sulaiman al Ahdal, Syekh Abdurrahman bin Abdul Mubin al Fathani, Syekh Abdul Gani bin Muhammad Hilal, Syekh Abis as Sandi, Syekh Abdul Wahab at Thantawy, Syekh Abdullah Mirghani, Syekh Muhammad bin Ahmad al Jauhari, dan Syekh Muhammad Zain bin Faqih Jalaludin Aceh. Selama menuntut ilmu di sana, Syekh Muhammad Arsyad menjalin persahabatan dengan sesama penuntut ilmu seperti Syekh Abdussamad al-Falimbani, Syekh Abdurrahman Misri al-Jawi, dan Syekh Abdul Wahab Bugis sehingga mereka dikenal sebagai Empat Serangkai dari Tanah Jawi Melayu. Setelah lebih kurang 35 tahun menuntut ilmu di Makkah dan Madinah, timbulah niat untuk menuntut ilmu ke Mesir. Ketika niat ini disampaikan dengan guru mereka, Syekh menyarankan agar keempat muridnya ini untuk pulang ke Jawi Indonesia untuk berdakwah di negerinya masing-masing. Menikahkan Anak Sebelum pulang, keempat sahabat sepakat untuk berhaji kembali di Tanah Suci Makkah. Pada saat itu tanpa disangka-sangka Syekh Muhammad Arsyad bertemu dengan adik kandung dia yaitu Zainal Abidin bin Abdullah yang sedang menunaikan ibadah haji. Sang adik membawa kabar berita bahwa anak dia yaitu Fatimah sudah beranjak dewasa dan sang anak menitipkan cincin kepada dia. Melihat hal demikian, tiga sahabat Syekh Muhammad Arsyad masing-masing mengajukan lamaran untuk memperisteri anak dia. Setelah berpikir lama, Syekh Muhammad Arsyad memutuskan untuk mengundi, lamaran yang akan diterima. Hasil pengundian ternyata lamaran Syekh Abdul Wahab Bugis yang diterima. Untuk itu diadakanlah ijab kabul pernikahan antara Syekh Abdul Wahab Bugis dengan Fatimah binti Syekh Muhammad Arsyad, yang dinikahkan langsung oleh Syekh Muhammad Arsyad sambil disaksikan dua sahabat lainnya. Membetulkan Arah Kiblat Masjid Maka bertolaklah keempat putra Nusantara ini menuju kampung halaman. Memasuki wilayah Nusantara, mula-mula mereka singgah di Sumatera yaitu di Palembang, kampung halaman Syekh Abdussamad Al Falimbani. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju Betawi, yaitu kampung halaman Syekh Abdurrahman Misri. Selama di Betawi, Syekh Muhammad Arsyad diminta menetap sebentar untuk mengajarkan ilmu agama dengan masyarakat Betawi. Salah satu peristiwa penting selama di Betawi adalah ketika Syekh Muhammad Arsyad membetulkan arah kiblat Masjid Jembatan Lima, Masjid Luar Batang dan Masjid Pekojan. Untuk mengenang peristiwa tersebut, masyarakat sekitar Masjid Jembatan Lima menuliskan di atas batu dalam aksara arab melayu tulisan jawi yang bertuliskan bahwa kiblat masjid ini telah diputar ke kanan sekitar 25 derajat oleh Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari pada tanggal 4 Safar 1186 H. Setelah dirasa cukup, maka Syekh Muhammad Arsyad dan Syekh Abdul Wahab Bugis berlayar menuju kampung halaman ke Martapura, Banjar, Kalimantan Selatan. Tiba di Kampung Halaman Pada bulan Ramadan 1186 H bertepatan 1772 M, sampailah Syekh Muhammad Arsyad di kampung halamannya, Martapura, pusat Kesultanan Banjar pada masa itu. Akan tetapi, Sultan Tahlilullah, seorang yang telah banyak membantunya telah wafat dan digantikan kemudian oleh Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidullah I, yaitu cucu Sultan Tahlilullah. Sultan Tahmidullah yang pada ketika itu memerintah Kesultanan Banjar, sangat menaruh perhatian terhadap perkembangan serta kemajuan agama Islam di kerajaannya. Sultan Tahmidullah II menyambut kedatangan dia dengan upacara adat kebesaran. Segenap rakyatpun mengelu-elukannya sebagai seorang ulama âMatahari Agamaâ yang cahayanya diharapkan menyinari seluruh Kesultanan Banjar. Aktivitas dia sepulangnya dari Tanah Suci dicurahkan untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang diperolehnya. Baik kepada keluarga, kerabat ataupun masyarakat pada umumnya. Bahkan, Sultan pun termasuk salah seorang muridnya sehingga jadilah dia raja yang alim lagi wara. Selama hidupnya ia memiliki 29 anak dari tujuh isterinya. Pada waktu berumur sekitar 30 tahun, Sultan mengabulkan keinginannya untuk belajar ke Makkah demi memperdalam ilmunya. Segala perbelanjaanya ditanggung oleh Sultan. Lebih dari 30 tahun kemudian, yaitu setelah gurunya menyatakan telah cukup bekal ilmunya, barulah Syekh Muhammad Arsyad kembali pulang ke Banjarmasin. Akan tetapi, Sultan Tahlilullah seorang yang telah banyak membantunya telah wafat dan digantikan kemudian oleh Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidullah I, yaitu cucu Sultan Tahlilullah. Sultan Tahmidullah II yang pada ketika itu memerintah Kesultanan Banjar, sangat menaruh perhatian terhadap perkembangan serta kemajuan agama Islam di kerajaannya. Sultan inilah yang meminta kepada Syekh Muhammad Arsyad agar menulis sebuah Kitab Hukum Ibadat Hukum Fiqh, yang kelak kemudian dikenal dengan nama Kitab Sabilal Muhtadin. Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari adalah pelopor pengajaran Hukum Islam di Kalimantan Selatan. Sekembalinya ke kampung halaman dari Makkah, hal pertama yang dikerjakannya ialah membuka tempat pengajian semacam pesantren bernama Dalam Pagar, yang kemudian lama-kelamaan menjadi sebuah kampung yang ramai tempat menuntut ilmu agama Islam. Ulama-ulama yang di kemudian hari menduduki tempat-tempat penting di seluruh Kerajaan Banjar, banyak yang merupakan didikan dari suraunya di Desa Dalam Pagar. Di samping mendidik, ia juga menulis beberapa kitab dan risalah untuk keperluan murid-muridnya serta keperluan kerajaan. Salah satu kitabnya yang terkenal adalah Kitab Sabilal Muhtadin yang merupakan kitab Hukum-Fiqh dan menjadi kitab-pegangan pada waktu itu, tidak saja di seluruh Kerajaan Banjar tetapi sampai ke-seluruh Nusantara dan bahkan dipakai pada perguruan-perguruan di luar Nusantara Dan juga dijadikan dasar Negara Brunai Darussalam. Kitab karya Syekh Muhammad Arsyad yang paling terkenal ialah Kitab Sabilal Muhtadin, atau selengkapnya adalah Kitab Sabilal Muhtadin lit-tafaqquh fi amriddin, yang artinya dalam terjemahan bebas adalah âJalan bagi orang-orang yang mendapat petunjuk untuk mendalami urusan-urusan agamaâ. Syekh Muhammad Arsyad telah menulis untuk keperluan pengajaran serta pendidikan, beberapa kitab serta risalah lainnya, di antaranya ialah Kitab Ushuluddin yang biasa disebut Kitab Sifat Duapuluh Kitab Tuhfatur Raghibin, yaitu kitab yang membahas soal-soal itikad serta perbuatan yang sesat Kitab Nuqtatul Ajlan, yaitu kitab tentang wanita serta tertib suami-isteri Kitabul Fara-idl, hukum pembagian warisan. Dari beberapa risalahnya dan beberapa pelajaran penting yang langsung diajarkannya, oleh murid-muridnya kemudian dihimpun dan menjadi semacam Kitab Hukum Syarat, yaitu tentang syarat syahadat, sembahyang, bersuci, puasa dan yang berhubungan dengan itu, dan untuk mana biasa disebut Kitab Parukunan. Sedangkan mengenai bidang Tasawuf, ia juga menuliskan pikiran-pikirannya dalam Kitab Kanzul-Makrifah. Anak dan Keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari menikah dengan 11 perempuan, yaitu Tuan Bajut, Tuan Bidur, Tuan Lipur, Tuan Guwat, Tuan Turiyah, Ratu Aminah, Tuan Palung, Tuan Kadarmanik, Tuan Markidah, Tuan Liyuh dan Tuan Dai. Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari telah memiliki keturunan yang telah menjadi ulama besar di masanya masing-masing, antara lain; Dari istri bernama Tuan Bajut telah menurunkan zuriat antara lain, Syekh Saâadudin atau Datuk Taniran, yang berikutnya memiliki zuriat Tuan Guru Kapuh Kandangan. Dari istrinya yang bernama Tuan Bidur telah menurunkan zuriat antara lain yakni, Syekh Muhammad Syarwani Abdan atau Guru Bangil dan Bakhiet. Sedangkan dari istri yang bernama Tuan Guwat menurunkan zuriat antara lain, Tuan Guru Semman Mulia dan Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau Guru Sekumpul. Beberapa zuriat Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari lainnya adalah Haji Mohamed Sanusi Bin Mahmood, mantan mufti pertama Singapura tahun 1969-1972, mantan Presiden Mahkamah Syariah Singapura, mantan ketua penasihat Ihwal agama Persekutuan Seruan Islam Singapura. Kemudian Husein Kedah al-Banjari, mufti kerajaan negeri Kedah, Malaysia serta KH Djazouly Seman, ulama Banjar, Kalimantan Selatan Kekerabatan dengan Sultan Banjar Kekerabatan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dengan Sultan Banjar. Sultan yang memerintah saat itu, Sultan Tamjidillah I 1745-78, sangat menghormatinya, dan mengawinkannya dengan salah seorang kerabat dekatnya, Ratu Aminah, anak dari Pangeran Thaha, saudara sepupu Sultan Tamjidillah I, yang menjadikannya sebagai kerabat Kesultanan Banjar.sumber
ï»żBANJARMASIN - Nama Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau dikenal sebagai Datu Kelampayan menempati hati masyarakat Kalimantan dan Indoensia sebagai ulama besar dan pengembang ilmu pengetahuan dan agama. Belum ada tokoh yang mengalahkan kepopulerannya. Karya-karyanya hinga kini tetap dibaca orang di masjid dan disebut-sebut sebagai kitabnya Sabilal Muhtadin diabadikan untuk nama Masjid Agung Banjarmasin. Nama kitabnya yang lain Tuhfatur Raghibin juga diabadikan untuk sebuah masjid yang tak jauh dari makan Syaikh Arsyad. Tak hanya itu, hampir seluruh ulama di Banjarmasin masih memiliki tautan dengannya. Baik sebagai keturunan atau muridnya. Sebut saja nama almarhum KH Zaini Abdul Ghani, yang dikenal dengan nama Guru Sekumpul itu adalah keturunan Syekh Muhammad Arsyad. Hampir semua ulama di Kalimantan, Sumatera, Jawa, dan Malaysia, pernah menimba ilmu dari syaikh atau dari murid-murid yang memiliki nama lengkap Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah bin Abu Bakar bin Sultan Abdurrasyid Mindanao bin Abdullah Abu Bakar Al-Hindi bin Ahmad Ash Shalaibiyyah bin Husein bin Abdullah Syaikh bin Sayid Abdullah Al-âAidrus bin Sayid Abu Bakar As-Sakran bin Saiyid Abdur Rahman As-Saqaf bin Sayid Muhammad Maula Dawilah Al-âAidrus. Silsilahnya kemudian sampai pada Sayidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidatina Fatimah binti Rasulullah. Dengan demikian Syaikh Arsyad masih memiliki darah keturunan tercatat sebagai pemimpin peperangan melawan Portugis, kemudian ikut melawan Belanda lalu melarikan diri bersama isterinya ke Lok Gabang Martapura. Dalam riwayat lain menyebut bahwa apakah Sayid Abu Bakar As-Sakran atau Sayid Abu Bakar bin Sayid `Abdullah Al-âAidrus yang dikatakan berasal dari Palembang itu kemudian pindah ke Johor, dan lalu pindah ke Brunei Darussalam, Sabah, dan Kepulauan Sulu, yang kemudian memiliki keturunan kalangan sultan di daerah itu. Yang jelas, para sultan itu masih memiliki tali temali hubungan dengan Syekh Muhammad Arsyad yang berinduk ke Hadramaut, Yaman. Bapaknya Abdullah merupakan seorang pemuda yang dikasihi sultan Sultan Hamidullah atau Tahmidullah bin Sultan Tahlilullah 1700-1734 M.Bapaknya bukan asal orang Banjar, tetapi datang dari India mengembara untuk menyebarkan Dakwah, ia seorang ahli seni ukiran kayu. Semasa ibunya hamil, kedua ibu bapaknya sering berdoa agar dapat melahirkan anak yang alim dan zuhud. Setelah lahir, orangtuanya mendidik dengan penuh kasih sayang setelah mendapat anak sulung yang dinanti-nanti ini. Beliau dididik dengan dendangan Asmaul-Husna, disamping berdoa kepada Allah. Setelah itu diberikan pendidikan Alquran kepadanya. Kemudian barulah menyusul kelahiran adik-adiknya yaitu; Abidin, Zainal abidin, Nurmein, Nurul Muhammad Arsyad lahir di Banjarmasin pada hari Kamis dinihari, pukul waktu sahur, 15 Safar 1122 H atau 17 Maret 1710 M.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Datuâ Kalampaian atau Datuâ Kalampayan 1710â1812 Masehi/ 1122-1227 hijriyah adalah seorang ulama besar dan kharismatik sekaligus mufti dari Kesultanan Banjar yang pusat pemerintahannya sekarang masuk dalam wilayah Propinsi Kalimantan Selatan Dakwah dan jasa-jasa Sidin beliau ; bhs Banjar dalam meletakkan dasar-dasar hukum fiqih, ilmu tauhid, tasawuf, hadits, tafsir, ilmu falak dan yang lainnya di lingkungan kekuasaan Kesultanan Banjar melalui karya-karya besar, fenomenal dan tentunya bermanfaat bagi umat yang diyakini berjumlah sekitar 17 kitab, beberapa diantaranya bahkan masih menjadi rujukan bagi para santri di seluruh pelosok nusantara bahkan Asia itu menjadikan beliau salah satu sosok teladan dan panutan bagi umat Islam tidak hanya di Kalimantan Selatan saja, tapi juga di berbagai wilayah bekas kekuasaan Kesultanan Banjar bahkan di seputar wilayah Asia Tenggara, sehingga oleh umat beliau sering digelari dengan sebutan Tuan Haji Besar. Datuâ Kalampayan yang juga dikenal dengan nama lengkap Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari merupakan ulama berpengaruh yang masih keturunan Alawiyyin melalui jalur Sultan Abdurrasyid Mindanao Kesultanan Maguindanao yang lahir di Lok Gabang, Astambul, Kabupaten Banjar dan besar di daerah Dalam Pagar, Martapura. Timur, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan tersebut. Masjid Sabilal Muhtadin, Banjarmasin kaekaha Salah satu karya fenomenal beliau yang paling dikenal umat adalah Sabilal Muhtadin lit-Tafaqquh fi Amrid-din yang secara umum diartikan sebagai âJalan bagi orang-orang yang mendapat petunjuk untuk mendalami urusan-urusan agama". Kitab yang ditulis pada tahun 1779 M 1193 H pada zaman pemerintahan Sultan Tamjidullah ini merupakan kitab fikih yang populer dalam Madzhab Syafi'i. Sebagai bentuk penghormatan masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan terhadap jasa-jasa beliau, nama besar Sidin diabadikan pada Universitas Islam Kalimantan UNISKA Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, selain itu judul dari salah satu kitab karya Sidin yang paling populer, Sabilal Muhtadin lit-Tafaqquh fi Amrid-din diabadikan menjadi nama masjid termegah dan terbesar simbol dialektika budaya masyarakat Kalimantan yang menjadi salah satu landmark terbaik Kota 1000 Sungai yang lokasinya persis di jantung Kota Banjarmasin, Masjid Sabilal Muhtadin. Kitab Sabilal Muhtadin Biografi singkat Datuâ KalampaianPada usia 7 tahun, Muhammad Arsyad kecil diminta Sultan Tahlilullah untuk tinggal di istana, untuk belajar bersama dengan anak-anak dan cucu Sultan yang kelak ikut membentuk kepribadiannya yang berakhlak mulia, ramah, penurut, dan selalu hormat kepada yang lebih tua. Kepribadian unggul yang telah nampak sejak dini ini, membuat Sultan Tahlilullah dan semua penghuni istana menyayanginya dan memberikan kasih sayang terbaik. Bahkan, demi harapan untuk mempersiapkan Muhammad Arsyad sebagai pemimpin yang alim, Sultan memberikan fasilitas pendidikan penuh kepada Muhammad Arsyad sampai umur 30 usia 30 tahun, Muhammad Arsyad di jodohkan oleh Sultan Tahlilullah dengan seorang perempuan bernama Tuan Bajut. Ketika istrinya hamil muda, Muhammad Arsyad dikirim ke tanah suci Mekkah untuk tugas belajar, oleh Suktan ke-15 Kesultanan Banjar, Sultan Tahmidullah 1700-1745. 1 2 Lihat Sosbud Selengkapnya
âș NusantaraâșDatu Kalampayan Diusulkan Jadi... Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau yang dikenal dengan Datu Kalampayan diusulkan menjadi pahlawan nasional. Ulama besar dari Kalimantan Selatan itu dianggap memiliki pemikiran dan karya besar bagi Nusantara. KOMPAS/JUMARTO YULIANUSTangkapan layar Youtube pelaksanaan Seminar Nasional Rekam Jejak Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari bertema Kiprah, Pemikiran, dan Karya Besar Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari bagi Nusantaraâ, di Gedung Mahligai Pancasila, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Rabu 16/3/2022.BANJARMASIN, KOMPAS â Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari 1710-1812 atau yang dikenal dengan nama Datu Kalampayan diusulkan menjadi pahlawan nasional. Ulama besar dari Kalimantan Selatan itu dianggap memiliki pemikiran dan karya besar di bidang keagamaan, sosial, dan pemerintahan bagi agar Datu Kalampayan mendapat anugerah pahlawan nasional semakin menguat dengan diadakannya Seminar Nasional Rekam Jejak Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari bertema âKiprah, Pemikiran, dan Karya Besar Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari bagi Nusantaraâ, di Gedung Mahligai Pancasila, Banjarmasin, Rabu 16/3/2022. Jika usulan diterima pemerintah pusat, Datu Kalampayan akan menjadi tokoh kelima dari Kalsel yang mendapat gelar pahlawan nasional. Sebelumnya, sudah ada empat tokoh dari Kalsel yang bergelar pahlawan nasional, yaitu Pangeran Antasari 1797-1862, Brigadir Jenderal Hasan Basri 1923-1984, KH Idham Chalid 1921-2010, dan Ir Pangeran H Mohammad Noor 1901-1979.Ketua I Dewan Harian Daerah DHD Badan Penerus Pembudayaan Kejuangan 45 Provinsi Kalsel Zulfadli Gazali mengatakan, Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari adalah tokoh Nusantara yang mengglobal karena melahirkan pemikiran dan karya besar yang jangkauannya luas secara nasional dan juga internasional, khususnya di kawasan Asia Tenggara.âKami merasa terpanggil menyelenggarakan seminar nasional ini sebagai salah satu tahapan penting dalam rangkaian kegiatan pengusulan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari sebagai pahlawan nasional,â YULIANUSTangkapan layar Youtube pelaksanaan Seminar Nasional Rekam Jejak Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, di Gedung Mahligai Pancasila, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Rabu 16/3/2022.Menurut Zulfadli, Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari adalah ulama besar yang anak cucunya banyak duduk sebagai mufti pemberi fatwa dan kadi hakim agama, serta menurunkan banyak ulama yang tersebar di Nusantara. Beliau mendapat beberapa julukan, di antaranya Matahari Islam Nusantara dan Mercusuar Islam Kalimantan.âMelihat perjuangan, pemikiran, dan karya besar di sepanjang perjalanan hidup Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, kami tidak meragukan jasa-jasa beliau sehingga wajar banyak rekomendasi untuk menjadikan beliau sebagai pahlawan nasional,â menyebutkan, lebih kurang 139 surat rekomendasi atau dukungan untuk menjadikan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari sebagai pahlawan nasional. Tercatat pula lebih dari 170 publikasi hasil kajian tentang Al Banjari berupa buku, artikel, jurnal ilmiah, disertasi, tesis, skripsi, laporan penelitian, ataupun makalah yang dibentangkan di seminar nasional dan internasional.âPada 13 November 2021, Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah TP2GD Provinsi Kalsel telah melakukan sidang dan menghasilkan kesepakatan untuk mengusulkan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari sebagai pahlawan nasional,â Juga Menunggu Belasan Tahun, Empat Tokoh Raih Gelar Pahlawan NasionalGubernur Kalsel Sahbirin Noor mengapresiasi para tokoh, akademisi, TP2GD Kalsel, serta berbagai pihak yang berpartisipasi dan mengusulkan penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datu Kalampayan. âMudah-mudahan pengusulan Datu Kalampayan sebagai pahlawan nasional bisa memenuhi persyaratan yang ditentukan,â diragukanMenurut Sahbirin, kebesaran nama Datu Kalampayan tidak diragukan lagi oleh tokoh mana pun, terutama kiprahnya yang luar biasa untuk Nusantara. Karya besarnya bernama Kitab Sabilal Muhtadin hingga saat ini dijadikan sumber dan rujukan bidang ilmu fikih di tanah Nusantara maupun di kawasan Asia Tenggara.âTanpa bergelar pahlawan nasional sekalipun, Datu Kalampayan telah menghiasi bumi Nusantara dengan keilmuan, ide, dan gagasan baru dalam dunia pendidikan, peradilan, dan masalah keumatan,â mengatakan, keinginan mengusulkan Datu Kalampayan sebagai pahlawan nasional substansinya bukan untuk melekatkan gelar semata, melainkan menjadikan gelar itu sebagai simbol teladan dan panutan bagi generasi Indonesia saat ini ataupun di masa yang akan YULIANUSGubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor memberi sambutan pada acara syukuran puncak Hari Pers Nasional HPN 2020 di Gedung Mahligai Pancasila, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Minggu 9/2/2020.âJika saatnya nanti Datu Kalampayan mendapatkan gelar pahlawan nasional, generasi di Banua Kalsel ini harus mampu mengikuti jejak langkah beliau sebagai suri teladan, yang memberikan jasa dan sumbangan besar untuk Banua dan negeri tercinta,â perjuangan, pemikiran, dan karya besar di sepanjang perjalanan hidup Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, kami tidak meragukan jasa-jasa beliau sehingga wajar banyak rekomendasi untuk menjadikan beliau sebagai pahlawan Besar Universitas Islam Negeri UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Azyumardi Azra menyebut Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari adalah salah satu ulama besar pada abad ke-18. Al Banjari sangat berpengaruh dalam perkembangan Islam di kepulauan Nusantara ataupun di ruang lingkup yang lebih luas.âSyekh Muhammad Arsyad Al Banjari belajar selama 30 tahun di Mekkah dan ikut mendirikan Komunitas Banjar di Mekkah. Keunggulannya secara intelektual tidak perlu diragukan lagi,â perjuanganNamun, dalam konteks pengusulan pahlawan nasional, Azyumardi mengingatkan agar tim pengusul lebih banyak menggali aspek perjuangan Al Banjari dalam melawan penjajahan kolonial Belanda. Sebab, kolonial Belanda atau VOC sudah datang ke Banjarmasin dan menjalin hubungan dengan Kesultanan Banjar semasa hidup Al Banjari.âPerang Banjar baru terjadi pada 1826 atau setelah Al Banjari wafat. Untuk itu, kiprah beliau dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda sebelumnya perlu dimasukkan dalam dokumen pengusulan,â Juga Anugerah Pahlawan Nasional bagi Tokoh dari Enam ProvinsiDirektur Kepahlawanan, Keperintisan, Kesetiakawanan dan Restorasi Sosial Kementerian Sosial Murhardjani menjelaskan, gelar pahlawan nasional diberikan kepada seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah NKRI, yang gugur atau meninggal demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan pemberian gelar pahlawan nasional pertama-tama sebagai penghormatan dan penghargaan terhadap setiap warga negara yang memajukan dan memperjuangkan pembangunan bangsa dan negara demi kejayaan dan tegaknya NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Kemudian untuk menumbuhkan kebanggaan, keteladanan, kepatriotan, sikap kepahlawanan, dan semangat kejuangan di dalam masyarakat.âKami berharap tim pengusul dari Kalsel bisa menyerahkan administrasi, biografi, dan hal-hal yang berkaitan dengan prosedur dan persyaratan pengusulan calon pahlawan nasional. Mudah-mudahan Al Banjari yang memiliki jasa besar bagi Nusantara dapat memenuhi persyaratan,â katanya. EditorSIWI YUNITA CAHYANINGRUM
â Keberhasilan dan keberuntungan seseorang adalah menjadikan dirinya, keluarga dan keturunannya dalam tuntunan agama, terdidik dan termasuk orang bertaqwa dan sholeh. Syekh Muhammad Arsyad Albanjari atau Datu Kalampayan salah satunya, beliau banyak menurunkan zuriat yang menjadi wali dan ulama besar khususnya di Kalimantan, hampir semua yang menjadi ulama terkemuka dan kharismatik di Kalimantan adalah dari zuriat beliau. Diantaranya lima orang bersaudara ini adalah cicit dari Datu Kalampayan Syekh Muhammad Arsyad Albanjary mereka adalah 1. Al-Alimul Allamah H. Abu Tholhah Tenggarong, Kaltim 2. Al-Alimul Allamah H. Abu Hamid Ujung Pandaran, Sampit, Kalteng 3. Al-Alimul Allamah H. Ahmad Balimau, HSS, Kalsel 4. Al-Alimul Allamah H. Muhammad Arsyad Lamak Pagatan, Kalsel 5. Al-Alimul Allamah H. Saâdudin Taniran, HSS, Kalsel Mereka berlima adalah anak dari cucu pertama Datu Kalampayan yaitu Al-Alimul Allamah Mufti H. Muhammad Asâad bin Syarifah binti Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Datu Kalampayan. Nenek mereka yang bernama Syarifah adalah anak pertama Datu Kalampayan dari isteri pertama beliau yang bernama Tuan Bajut. 1. AlâAlimul Allamah H. Abu Tholhah Al-Banjari Beliau adalah seorang cicit Datu Kalampayan yang sempat mendapat didikan langsung dari datuknya, sehingga mewaritsi ilmu-ilmu dari ayah dan datuknya. Al-Alimul Allamah H. Abu Tholhah sebelumnya tinggal di Pagatan, karena mendapat panggilan untuk berjihad dan mengemban tugas menyampaikan dakwah islamiah di Kutai Tenggarong, maka beliau tinggalkan Pagatan menuju Kutai Tenggarong. Beliau terkenal sebagai ulama yang berani dalam menegakkan yang hak dan menumpas yang bathil. Beliau wafat di Tenggarong Kaltim dan dimakamkan disana, kubah beliau sering diziarahi dan masyhur disana. 2. Al-Alimul Allamah H. Abu Hamid Al-Banjari Beliau juga sempat mendapat didikan langsung dari datuknya. Medan dakwah beliau sampai ke Pontianak, sehingga sampailah dakwah datuknya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari di Kalimantan Barat. Sebagaimana kakaknya Al-Alimul Allamah H. Abu Hamid juga seorang ulama yg berani menegakkan yg hak, ulama yg waro, tawadhu, pemurah dan peramah. Beliau sempat menikah di Pontianak dan mempunyai 6 orang anak. Setelah sekian lama di Pontianak, maka beliau berkeinginan pulang kampung untuk berziarah kemakam datuknya sekaligus mengunjungi sanak saudara di Banjar. Karena rute kapal harus singgah dulu ke Surabaya, kemudian meneruskan menuju Banjar dengan perahu Vinicy. Karena kerasnya angin badai dilaut, perahu yang ditumpanginya terdampar dipesisir kota Sampit Kalteng. Beliau mendapat sakit, hingga wafat dan dimakamkan disana. Kepastian riwayat bahwa beliau dimakamkan di Ujung Pandaran Sampit itu adalah ketika salah seorang zuriat Datu Kalampayan bernama M. Muslim orang Dalam Pagar Martapura hendak menikah di Sampit. Sebelum berangkat dia lebih dulu minta restu kepada Alâ-Alimul Allamah H. Ismaâil Khotib Dalam Pagar, lalu beliau berpesan kepadanya agar sebelum menikah disana nanti hendaklah lebih dulu ziarah kemakam Alâ-Alimul Allamah H. Abu Hamid di Ujung Pandaran Sampit. 3. Alâ-Alimul Allamah H. Ahmad Al-Banjari Beliau juga sempat mendapat didikan langsung dari datuknya. Setelah beliau menikah, beliau mendapat tugas dakwah ke Balimau Kandangan HSS. Beliau terkenal sebagai ulama yang berani sehingga disegani, waroâ, tawadhu, pemurah dan penyabar dalam berdakwah. Beliau tidak mengenal lelah dalam dakwahnya dan tanpa pamrih hingga akhir hayatnya. Menurut cerita masyarakat makam beliau yang sekarang, yang terletak di daerah Balimau adalah bukan tempat beliau di makamkan pertama kali. Dahulunya setelah beliau wafat di makamkan di satu tempat namun tanpa di ketahui makam tersebut hilang, tapi pada satu malam makam beliau hilang tersebut terlihat satu cahaya terang benderang dari makam beliau yang pertama berpindah ke makam beliau yang sekarang ini. Juga menurut penuturan masyarakat setempat ditempat makam beliau yang pertama telah di jadikan sarang maksiat oleh para perampok, oleh sebab itulah maka makam beliau berpindah dengan sendirinya dengan ijin Allah SWT ketempat yang lebih baik. Beliau wafat di Balimau dan Kubahnya dikenal dengan nama Kubah Balimau dan banyak diziarahi orang dari berbagai daerah. 4. Alâ-Alimul Allamah H. Muhammad Arsyad Lamak Al-Banjari Mufti Lamak Nama beliau sama dengan datuknya, beliaupun mewaritsi ilmu dan amal ayah dan datuknya. Beliau sempat belajar ke Makkah beberapa tahun, diantara gurunya adalah 1. Syekh Ahmad Dimyathi, Mufti Syafiâiyah 2. Syekh Yusuf dan 3. Syekh Ar-Rahbini. Sepulangnya ke Banjar beliau di angkat Sultan Banjar menjadi mufti di kerajaan Banjar. Selain menjadi mufti, beliau tetap dengan dakwahnya, yang tegas dalam hukum agama hingga beliau juga terkenal sebagai pahlawan. Diantara murid beliau adalah sultan Adam Al-Watsiq Billah. Pada masa pemerintahan Sultan Abdurrahman bin Sultan Adam berazam hendak pergi menunaikan haji ke kota suci Makkah, sebelum pergi terlebih dahulu beliau memgunjungi kakak beliau Al-Alimul Allamah H. Abu Tholhah yang ketika itu masih bermukim di Pagatan, namun setibanya di Pagatan beliau mendapat sakit, hingga wafat dan dimakamkan ditepian pantai Pagatan, Tanah Bumbu. Menurut catatan Al-Alimul Allamah H. Ismaâil Khotib âTuan Mufti H. M. Arsyad Lamak berpulang ke Rahmatullah pada hari sabtu, 3 likur hari, bulan rabiul awal 1275H, dimasa pemerintahan Sultan Abdurrahman bin Sultan Adam atau kira-kira 48 tahun setelah wafatnya Datuk Kalampayan yang wafat pada 6 syawal 1227H. Makamnya dibuatkan kubah oleh Al-Alimul Allamah H. Abdurrahman Siddiq Al-Banjari Datu Sapat, mufti Indragiri Riau dan direnovasi secara permanen oleh pemerintah daerah. 5. AlâAlimul Allamah H. Saâdudin Al-Banjari Beliau juga dikenal dengan nama H. M. Thoyyib dan bergelar Datu Taniran. Dilahirkan tahun 1194H atau tahun 1774M di Dalam Pagar Martapura, jadi usia beliau dimasa Datu Kalampayan wafat sekitar 33 tahun. Beliau juga sempat dididik langsung ayah dan datuknnya, selain itu beliau juga berkhidmat dan berguru kepada kakak beliau Al-Alimul Allamah H. Lamak. Kemana saja kakaknya berdakwah, beliau selalu disampingnya. Di usia 25 thn beliau pergi ke Makkah untuk berhaji sekaligus menuntut ilmu disana. Lebih kurang 10 thn beliau belajar disana. Sekembali dari tanah suci, maka beliau berada disamping ayahnya yaitu Al-Alimul Allamah Mufti H. M. AsâAd dan kakak-kakaknya dalam membantu berdakwah keberbagai daerah dan pelosok. Pada tahun 1812 M datanglah utusan tatuha masyarakat Taniran ke Martapura kerumah Al-Alimul Al-Alamah H. M. Asâad dengan maksud agar beliau berkenan dapat mengirim guru agama ke Taniran. Mendengar hal itu maka sebagai mufti dikerajaan Banjar, beliau merasa berkewajiban untuk memenuhi permintaan masyarakat taniran. Maka beliau dengan senang hati mengirim anaknya sendiri yaitu Al-Alimul Allamah yang waktu itu baru kembali 2 thn dari Makkah. Taniran dimasa itu dipimpin seorang lurah bernama Abah Shaleh, mendengar Tuan Mufti menyanggupi permintaan masyarakatnya dan bahkan mengirim langsung anaknya, sang lurah begitu gembira. Beliau dijemput dan datang disambut dengan gembira oleh masyarakat Taniran. Masyarakat menghibahkan sebidang kebun kelapa sebagai tempat untuk membangun rumah dan komplek kegiatan belajar mengajarnya. Maka berdatanganlah para murid dari berbagai daerah di Hulu Sungai dan lainnya. Beliau ulama yang waroâ, qonaâah, lemah-lembut dan segala sifat mahmudah lainnya. Dakwah beliau dengan bebagai cara, selain dengan lisan, terkadang dengan mencontohkan bilâhal, sehingga murid2 bisa mengikutinya. Apabila beliau mandi, tidak pernah membuka pakaiannya karena begitu menjaga takut terlihat auratnya. Dan dalam soal menjaga kehalalan makanan beliaupun sangat berhati-hati. Beliau suka berkholwat menyendiri, hanya keluar jika mengajar atau sholat ke mesjid, terlebih setelah kakaknya Al-Alimul Allamah H. M. Arsyad Lamak wafat. Bahkan beliau jarang sekali pulang ke Martapura karena kakak yang dikunjungi tidak ada lagi. Beliau ditawari pemerintah Belanda untuk menggantikan kakaknya sebagai mufti, tapi beliau tolak, karena beliau lebih senang fokus dalam mengajar ilmu dan amal dimasyarakat. Setelah kurang lebih 45 thn dalam berdakwah, beliau wafat pada 5 safar 1278H 1858 M dan dimakamkan di Taniran yang dikenal dengan Kubah Taniran. Kelima makam/ kubah beliau berlima sering didatangi oleh banyak peziarah dari berbagai daerah. _________ Dirangkum dari cerita Abah Guru Sekumpul dan sumber lainnya, khususnya dari buku âMaulana Syekh Muhammad Arsyad Albanjari oleh Abu Daudi/ zein Dalam pagar. Ditulis Ulang Oleh wartawa Muhammad Suryadi
silsilah datu kelampayan ke bawah